πŸ’‘
"Punya ide cerita anak yang kocak atau seru? Hubungi redaksi yuk, karyamu bisa tayang di sini! πŸ“©πŸ¦Έ"
🏠 Beranda πŸ“š Daftar Cerita 🦸 Karakter πŸ“– Festival LIVE πŸ’« Tentang βœ‰οΈ Kontak πŸ’‘ Info Baca
⭐

Kampung Ceria dan Penunggang Egrang

Kampung Ceria dan Penunggang Egrang
Ilustrasi CeritaBoom 🎨

Di sebuah lembah hijau yang dikelilingi oleh gunung-gunung tinggi, terdapat sebuah desa kecil yang bernama Desa Sukamulia. Di desa ini, udaranya selalu sejuk, pepohonannya rindang, dan sungainya mengalir jernih.

Di pintu masuk desa, berdiri sebuah papan kayu ukiran tua. Di papan itu tertulis sebuah kalimat: β€œBERMAIN DENGAN CERIA TANPA GADGET BAHAGIA SELALU”.

Anak-anak di Desa Sukamulia sangat mematuhi tulisan di papan itu. Setiap sore, saat matahari mulai condong ke barat dan langit berubah jingga, lonceng sekolah berbunyi tandas. Anak-anak tak buru-buru pulang untuk memegang layar gawai atau menonton televisi. Sebaliknya, mereka berlarian ke lapangan rumput luas di tengah desa.

Ada Tono yang sedang jongkok di tanah, membuat rumah-rumahan kecil dari ranting dan daun kering. Ada Siti dan Rina yang berlari-lari kejaran, mengejar kupu-kupu warna-warni yang terbang di atas bunga.

Lalu, ada Bima. Bima adalah anak yang paling lincah di desa itu. Ia membawa sepasang egrang kayu tinggi. Dengan cekatan, Bima melangkah ke atas kayu itu. Dor… dor… dor… bunyi kayu egrang saat dipakai berjalan di atas rumput. Bima berjalan tinggi melangkah, sambil menendang-nendang sebuah bola anyaman dari daun pandan.

Teman-temannya tertawa gembira melihat Bima. β€œHati-hati, Bima! Jangan jatuh ya!” teriak Siti sambil melambai. Bima tertawa lebar, β€œAman! Di desa kita, bermain itu menyenangkan!”

Mereka semua tertawa riang. Angin sore berhembus membelai rambut mereka. Tanpa mereka sadari, bermain di luar ruangan, berlari, melompat, dan tertawa bersama teman-teman membuat tubuh mereka sehat dan hati mereka sangat bahagia. Jauh lebih seru daripada sekadar menatap layar kecil yang membuat mata lelah.

Matahari pun perlahan turun, meninggalkan warna jingga yang semakin gelap. Ibu-ibu di desa mulai memanggil nama anak-anak dari beranda rumah.

β€œTonoooo… ayo pulang, mandi dulu!” panggil Ibu Tono. β€œSiti, Rinaaa… makan sore sudah siap!” panggil Ayah Siti.

Satu per satu anak-anak berhenti bermain. Bima turun dari egrangnya, lalu ia duduk di bawah pohon besar untuk menarik napas. Ia memandangi papan kayu di dekatnya dan tersenyum. Ia sangat bersyukur bisa tumbuh di desa ini, di mana kebahagiaan bisa didapat dari keringat saat bermain dan tawa bersama teman.

Matahari benar-benar telah terbenam. Bintang-bintang mulai bermuncilan di langit gelap. Kicau burung pergantian dengan suara jangkik yang menemani malam. Anak-anak Desa Sukamulia sudah mandi, memakai baju tidur yang hangat, dan rebah di kasur mereka.

Kaki mereka mungkin sedikit pegal karena berlarian, tapi senyum mereka tidak hilang. Mata mereka mulai terasa berat, dibuai oleh suara jangkrik yang bersenandung.


Pesan Moral: Bermain di luar rumah bersama teman-teman, berlarian, dan menciptakan permainan sendiri jauh lebih menyenangkan dan membuat tubuh sehat daripada sekadar bermain gawai. Jagalah selalu keceriaan masa kecilmu di alam terbuka ya, sobat kecil. Selamat tidur dan bermimpilah indah di bawah rindangnya pepohonan.

Avatar photo
Diceritakan oleh:

Ucil