π Babak 1: Sok Sok Estetik
Ini cerita tentang seorang anak muda bernama Ujang. Ujang lagi gabut di tanah lapang pas sore-sore. Melihat pemandangan senja yang bagus banget, langit oranye, gunung di kejauhan, Ujang ngebet jadi penulis.
Ujang: (Bawa meja kayu ke tengah lapang) “Hari ini, gue harus menulis karya sastra yang bikin dunia nangis!”
Dia duduk di kursi kayu, buka buku catatan, taruh gelas kopi di meja, juga numpuk buku tebal yang dia bawa cuma buat gaya-doang (soalnya isinya gak pernah dibaca).
Di belakangnya ada orang lalu-lalang, ada yang ngobrol, ada yang jalan-jalan bawa anjing. Tapi Ujang pura-pura gak peduli. Dia penulis cohesive, misterius, dan dramatis.
Ujang: (sambil pegang pulpen, nunduk senyam-senyum) “Langit oranye… kau membawa pesan dari masa lalu…”
π¦ Babak 2: Musuh Tak Terlihat
Ujang baru aja mau nulis kata pertama, tiba-tiba…
NGIIIIUNG!!! π¦
Seekor nyamuk gede ukuran pesawat tempur lewat di kupingnya.
Ujang: (gebrak meja) “Sst! Lagi fokus nih!”
Dia coba nulis lagi. Matahari tenggelam perlahan…
NGUNG! NGUNG! NGUNG!
Tiga nyamuk lainnya ngejar satu nyamuk tadi, jadi kayak rally balap nyamuk di sekitar kepala Ujang.
Ujang: “Gila, ini lapangan kosong kok nyamuknya rame kayak pasar burung?!”
Dia mulai gelagapan. Tangan kirinya nulis, tangan kanannya kayak tukang pencak silat nepokin nyamuk.
Plak! Plak!
Ujang: “Hah! Kena sasaran!” (Ngeliat tangan, gak ada nyamuk, malah nyamuknya nempel di hidungnya) “ASTAGA, ada di hidung gue!” π€¦ββοΈ
π Babak 3: Gangguan Tetangga
Sambil perang sama nyamuk, datanglah Pak Marno, bapak tetangga yang lagi gembala kambing. Kambing-kambingnya lewat deket meja Ujang.
Pak Marno: “Eh, Ujang! Lagi ngapain di sini magrib-magrib gini? Mancing gelap?”
Ujang: (sok cool, gak ngeliat Pak Marno) “Aku sedang merangkai bait-bait syair kehidupan, Pak. Meresapi keindahan alam.”
Pak Marno: “Oh… Syair? Bisa dong dibaca, siapa tau gue mual.”
Tiba-tiba salah satu kambing Pak Marno ngeliat gelas kopi Ujang di meja. Kambing itu nyenggol meja sedikit…
GREK!
Gelas kopi tumpah, ngotorin buku catatan Ujang!
Ujang: “KOPI GUEEE!!! KARYA SENI GUEEE!!!” π
Pak Marno: “Waduh, maaf ya Jang. Kambingku kebetulan doyan Americano. Kirain rumput, ternyata biji kopi.”
Kambingnya malah mbek panjang, “Mbeeeeeee…” kayak ngejek.
π¬οΈ Babak 4: Angin Pengejar Kertas
Ujang panik. Dia buru-buru ngelepas jaketnya buat ngelapin tumpahan kopi di bukunya. Tapi di tanah lapang yang luas, angin sorenya gak main-main.
WUUUS!
Halaman buku catatan Ujang yang gak ditutup tertiup angin, beterbangan ke udara!
Ujang: “NOOO! KARYA GUE!”
Ujang kejar satu lembar… Jduug! (Kesandung batu). Ujang kejar lembar lainnya… Brak! (Nabrak tumpukan buku tebalnya sendiri sampai buku itu nyebar kemana-mana).
Pas dia berhasil nyeplak satu lembar kertas yang ternyata isinya cuma tulisan “Matahari tenggelam…”, angin ngebut lagi ngambil kertas itu terbang ke arah gunung.
Ujang berdiri pas di pinggir lapang, nunduk pasrah, ngerasa kayak tokoh utama film drama yang gagal dapet warisan.
π€‘ Babak Terakhir: Tetap Sok Cool
Hari makin senja. Ujang duduk lagi di kursinya. Rambutnya awut-awutan kena angin, muka ada noda kopi, kakinya ada tahi kambing (entah dari mana, gak berani tanya).
Buku catatannya tinggal 2 lembar basah, gelas kosong, pulpen nyangkut di kuping.
Tapi Ujang… Ujang tetap duduk tegak. Ngeliat matahari terbenam.
Datang anak kecil lewat naik sepeda.
Anak Kecil: “Kak, Kak! Kakak lagi ngapain duduk sendirian? Kayak orang ditolak pacar.”
Ujang: (Tarik nafas panjang, sok bijak) “Aku sedang menikmati senja, Nak. Mencari inspirasi.”
Anak Kecil: “Oh… Tapi tadi kakak ngomong sendiri, lari-lari kejar kertas, dan disruduk bandot. Kakak sakit kepala ya?”
Ujang: “…Pulang sana, Nak. Mumpung gue masih sabar, tak sikat yaa!” π‘
Ujang tutup bukunya dengan kesal. Dia ngeluarin HP dari saku celana, buka aplikasi kamera, dan…
Ujang: “Yaudah lah, gagal nulis, foto estetik buat story IG aja deh paling nggak!” πΈ
Tiup angin lagi, rambutnya jadi tambah awut-awut di foto.
π‘ Pesan Moral:
Kalau mau nulis di tempat terbuka saat senja, pastikan lo udah pakai lotion anti nyamuk, ngunci meja, dan inget kalau kambing suka kopi. Lebih baik foto-foto estetik doang daripada buku catatan jadi tisu kambing! π