Di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan pegunungan, tinggallah seorang anak bernama Raka.
Raka memiliki sebuah sepeda tua berwarna biru. Sepeda itu bukan sepeda yang paling bagus di desa. Belnya kadang berbunyi sendiri, rodanya sudah beberapa kali ditambal, dan catnya mulai pudar.
Namun bagi Raka, sepeda itu adalah benda paling istimewa di dunia.
Setiap sore, setelah membantu Ibu menyiram tanaman, Raka akan mengajak tiga sahabatnya berkeliling desa.
โSiapa yang paling cepat sampai pohon mangga?โ teriak Raka.
โAku!โ jawab Bimo.
โTidak mungkin!โ sahut Lala sambil tertawa.
Mereka pun mengayuh sepeda menyusuri jalan kecil di antara sawah. Angin sore menyentuh wajah mereka. Burung-burung mulai kembali ke sarangnya, sementara matahari perlahan turun di balik gunung.
Hari itu, mereka menemukan sesuatu yang aneh.
Di dekat sebuah jembatan kecil, ada seekor kunang-kunang yang tidak bercahaya.
Raka turun dari sepedanya.
โKamu kenapa?โ tanyanya pelan.
Kunang-kunang itu hanya diam.
Tiba-tiba terdengar suara kecil.
โAku kehilangan jalan pulang.โ
Raka dan teman-temannya saling berpandangan.
โKunang-kunang bisa bicara?โ bisik Bimo.
โSepertinya yang satu ini bisa,โ jawab Raka.
Kunang-kunang itu bernama Lumu. Rumahnya berada di sebuah pohon besar di ujung desa, tetapi malam sudah hampir tiba dan Lumu terlalu lemah untuk terbang.
โKita antar dia,โ kata Raka.
Mereka pun bersepeda perlahan.
Tidak ada yang berlomba kali ini.
Raka bahkan mengayuh pelan agar Lumu bisa mengikuti mereka.
Mereka melewati sawah, rumah-rumah kecil, dan sebuah jalan yang dipenuhi pohon bambu. Langit semakin gelap. Satu demi satu bintang mulai muncul.
Akhirnya mereka sampai di sebuah pohon besar.
Dari balik dedaunan terdengar suara kunang-kunang lainnya.
โLumu!โ
Lumu terbang sedikit demi sedikit.
Saat mendekati teman-temannya, tubuh kecilnya tiba-tiba menyala.
Cahaya kuning lembut memenuhi halaman pohon itu.
โTerima kasih,โ kata Lumu.
Raka tersenyum.
โKami cuma membantu.โ
Lumu kemudian memberikan satu cahaya kecil kepada Raka.
โIni untukmu. Tidak akan membuatmu kaya atau menjadi terkenal.โ
โLalu untuk apa?โ
โSupaya kamu selalu ingat,โ jawab Lumu, โbahwa kebaikan sekecil apa pun bisa membuat dunia menjadi lebih terang.โ
Raka menyimpan cahaya itu di dalam botol kecil.
Ketika ia dan teman-temannya pulang, malam sudah benar-benar tiba.
Mereka mengayuh sepeda di bawah langit penuh bintang.
Tidak ada suara selain roda sepeda, suara jangkrik, dan angin malam yang melewati pepohonan.
Sesampainya di rumah, Raka memandangi botol kecil pemberian Lumu.
Cahayanya masih menyala.
Raka tersenyum, lalu berbaring di tempat tidurnya.
Hari itu ia mengerti sesuatu.
Ternyata kebahagiaan tidak selalu datang dari hadiah besar.
Kadang kebahagiaan datang dari perjalanan kecil bersama sahabat.
Dari tertawa di jalan desa.
Dari menolong yang membutuhkan.
Dan pulang ke rumah dengan hati yang tenang.
Di luar jendela, cahaya kunang-kunang terlihat berkelip di kejauhan.
Raka memejamkan mata.
โSelamat malam, Lumu.โ
Dan malam itu, di desa kecil di kaki gunung, Raka tidur dengan senyum di wajahnya.
Sementara kunang-kunang terus menari di antara pepohonan, menjaga mimpi anak-anak desa sampai pagi datang.
Tamat.