Malam itu, Riko sedang duduk di halaman rumah sambil melihat bintang. Tiba-tiba, sebuah cahaya merah melesat dari langit. “Wuuussshh!” Riko mendongak tepat ketika benda kecil itu jatuh ke halaman dengan suara, “DUK!” Rumput beterbangan ke mana-mana. Riko berlari mendekat dan menemukan sebuah robot kecil berwarna perak dengan lampu biru berkedip di kepalanya.
Robot itu bangkit, membersihkan debu dari tubuhnya, lalu berkata, “Bip… bop… ting… zaaa…!” Riko mengedipkan mata. “Hah?” Robot itu mencoba lagi. “BEEP… TING… WOOO… ZAA!” Riko menggaruk kepala. “Kamu ngomong apa?” Robot itu menunjuk ke langit dan mengeluarkan suara seperti radio rusak. “KRRR… BEEP… LAA… LAA…” Riko akhirnya mengerti satu hal. Robot itu bisa bicara, tetapi hanya menggunakan bahasa bintang.
“Aku Riko. Namamu siapa?” tanya Riko. Robot itu menepuk dadanya. Di sana tertulis sebuah nama kecil: BEEP. “Oh, namamu Beep!” Beep mengangguk cepat. “BEEP!” “Kamu dari mana?” tanya Riko. Beep menunjuk ke langit, lalu membuat bentuk planet dengan kedua tangannya. “Mars?” tanya Riko. Mata Beep langsung menyala terang. “BEEP BEEP!” Riko tertawa. “Oke, berarti kamu memang dari Mars.”
Tiba-tiba Beep mengeluarkan sebuah benda kecil dari perutnya. Benda itu berbentuk seperti batu merah yang bercahaya. Beep memegangnya erat-erat lalu menunjuk ke langit. Riko memperhatikan wajah Beep yang terlihat khawatir. “Kamu kehilangan sesuatu?” Beep mengangguk. Ia lalu menunjukkan gambar hologram yang muncul dari tangannya. Dalam gambar itu terlihat sebuah roket kecil dan sebuah planet merah.
Riko mulai mengerti. “Pesawatmu rusak?” Beep mengangguk lagi. “Kalau begitu kita harus memperbaikinya!” seru Riko. Mereka membawa Beep ke garasi. Riko mengambil obeng, sementara Beep mengeluarkan alat-alat aneh dari tubuhnya. Ada kunci inggris mini, kabel bercahaya, dan bahkan sebuah palu yang bisa berbicara. “Halo,” kata palu itu. Riko terkejut. “Sekarang palu juga bisa ngomong?” Beep hanya tertawa, “Bip!”
Mereka bekerja sepanjang malam. Riko memasang kabel, Beep memperbaiki mesin, tetapi tiba-tiba sebuah percikan listrik membuat rambut Riko berdiri. “JRENG!” Riko terdiam dengan rambut mengembang seperti sapu. Beep melihatnya lalu tertawa sampai lampu di kepalanya berkedip-kedip. “Jangan ketawa!” kata Riko. Beep malah semakin tertawa.
Akhirnya, roket kecil Beep berhasil diperbaiki. Namun ketika mereka hendak menyalakannya, Beep tiba-tiba memegang tangan Riko. Ia menunjuk ke langit. Di sana, beberapa cahaya merah bergerak cepat di antara bintang-bintang. Riko menatap dengan heran. “Itu apa?” Beep terlihat sangat takut.
Sebuah suara terdengar dari langit, “BZZZT… BEEP… BZZZT…” Beep langsung bersembunyi di belakang Riko. Riko menelan ludah. “Jangan bilang ada robot lain yang datang mencarimu?”
Dari balik awan muncul tiga robot besar berbentuk bulat. Mereka turun perlahan dan mengelilingi halaman rumah Riko. Salah satu robot berkata dengan suara berat, “Mencari… robot kecil… kode B-EEP.”
Riko berdiri di depan Beep. “Dia temanku. Kalian mau apa?”
Robot besar itu memancarkan cahaya ke arah Beep. “Beep membawa sesuatu yang sangat penting. Sebuah kristal bintang.”
Riko melihat batu merah yang dibawa Beep. Ternyata kristal itu bukan batu biasa. Kristal tersebut adalah sumber energi terakhir dari planet Mars. Jika kristal itu hilang, kota robot di Mars bisa kehilangan seluruh sumber energinya.
Riko berpikir cepat. “Kalau begitu, Beep harus mengembalikannya ke Mars!”
Robot besar itu diam beberapa detik. “Jawaban benar.”
Ternyata mereka bukan musuh. Mereka adalah penjaga yang datang menjemput Beep.
Beep naik ke roket kecilnya. Sebelum pergi, ia kembali kepada Riko dan memberikan sebuah benda kecil berbentuk bintang. Benda itu menyala lembut di telapak tangan Riko. Beep menunjuk benda itu lalu berkata, “BEEP… TING… LAA…”
Riko tersenyum. “Aku juga nggak ngerti bahasamu, Beep. Tapi aku tahu kamu bilang terima kasih.”
Beep mengangguk.
Mesinnya menyala.
WUUUUSSSHHH!
Roket kecil itu melesat ke langit dan menghilang di antara bintang-bintang.
Sejak malam itu, setiap kali Riko melihat langit, ia selalu mencari satu bintang merah yang berkedip tiga kali.
Karena ia tahu…
di suatu tempat yang sangat jauh di Mars, ada robot kecil bernama Beep yang sedang melihat bintang yang sama.
Dan mungkin, suatu malam nanti…
Beep akan kembali.
BEEP… BEEP… TING!
TAMAT. 🚀🤖⭐